AKU TIDAK MUNGKIN
MENYAKITI DAN MENGHANCURKAN TULANG RUSUKKU SENDIRI.
Wahai
penyempurna agamaku, apa kabarmu? Di untaian cinta ini, aku menyebutmu pada
syair-syair rinduku.
Kau,
yang telah berhasil membuatku serupa Adam. Bagaimana mungkin kujadikan kau posisi
terhina di jasadku? Sebagai alas kaki, kuinjak-injak, lantas kurendahkan harga
dirimu sedemikian rupa. Bukankah kau tercipta tidak dari tulang kaki?
Tak
selayaknya aku membebanimu dengan tanggung jawab yang begitu berat. Mencari
nafkah untukku dan anak-anakku guna bertahan hidup. Sungguh itu takkan mungkin
kulakukan! Karena kutahu, kau tercipta bukan dari tulang punggung.
Maka
aku tidak ingin engkau kelelahan dalam membantu mencari nafkah, karena itu
semua sebenarnya adalah tanggungjawabku, sungguh sebenarnya engkau tidak harus
melakukan itu, engkau tercipta bukan sebagai budakku, tetapi engkaulah pelurus
jalanku.... maafkan aku.
Aku
juga tak ingin menjadikanmu sebagai pemimpin di keluarga kita. Mengatur biduk
rumah tangga agar berjalan dengam baik. Jika itu kulakukan, maka imbasnya kau
akan berlaku semena-mena padaku dan anak-anakku kelak. Bukankah kau tercipta
tidak dari tulang kepala?
Kuingin
mengajarimu dengan cinta dan kasih sayang. Tidak menjadikanmu sebagai alat
untuk melaksanakan segala keinginanku, serta memuaskan nafsuku. Karena kutahu,
kau tercipta tidak dari tulang tangan.
Sungguh,
kau tercipta dari tulang rusukku. Berada di bawah lenganku agar senantiasa
kujaga serta kulindungi dari berbagai macam bahaya. Berada dalam ragaku dalam
suka maupun duka. Selalu merasakan hal yang sama sepertiku hingga akhir masa.
Bagaimana mungkin ku menyakiti dan
menghancurkan tulang rusukku sendiri?
Rasulullah
SAW bersabda : “Berwasiatlah kalian dengan kebaikan terhadap para wanita (para
istri), karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk.” (HR. Bukhari Muslim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar